19 Juli 2011

1. Pendidikan Dalam Pandangan Ontologi
Tiap sudut pandang dalam perspektif yang berbeda maka menghasilkan pengetahuan yang berbeda pula. Demikian pula dengan pendidikan. Dalam pandangan ontologi pendidikan adalah suatu bentuk lembaga yang menyelenggarakan atau menjadi tempat/wadah terjadinya proses pendidikan. Sudut pandangnya terfokus pada eksistensi lembaga itu sendiri bukan proses yang terjadi didalamnya.
Menurut pandangan ontologi, apapun namanya entah tumbuhan, hewan atau manusia selama ia melakukan atau mengalami perubahan dari satu kondisi (umumnya dianggap tidak atau kurang baik) menuju ke kondisi lain (dianggap/dipandang lebih baik) maka ia bisa disebut sebagai pendidikan. Sifat konsep yang dikandung lebih meluas. Akibatnya, dalam pandangan ontologi konsep pendidikan menjadi tak terbatas. Semua benda atau konsep itu sendiri bisa disebut pendidikan.
Dari sudut pandang ontologi lahir konsep-konsep seperti : pendidikan di dalam diri manusia, alam semesta yang mengalami pendidikan, pendidikan di dalam masyarakat, politik pendidikan, pendidikan politik, pendidikan trans-dimensi realitas, dan seterusnya. Sudut pandangnya hampir selalu sama menfokuskan pada aspek benda yang mengalami perubahan. Terkait unsur tujuan, nilai fungsi, atau arah (aksiologi) dari pendidikan itu sendiri tidak berguna dan tidak diperhatikan sebagai unsur penentu untuk dapat disebut pendidikan. Contohnya muncul istilah pendidikan kejahatan. Dalam pandangan aksiologi tidak ada dan tidak dikenal istilah mendidik untuk berbuat jahat. Yang disebut mendidik itu selalu baik dan tidak mungkin buruk apalagi jahat.
Bagi ontologi beda. Karena Ontologi merupakan ilmu yang mempelajari yang ada (tapi kadang tidak diikuti dengan yang umum), maka konsep pendidikan dipandang menurut keberadaannya sebagai suatu kenyataan atau pemikiran yang muncul atau nampak. Konsepnya menjadi lebih sederhana namun meluas. Terbebas dari nilai-nilai subjektif. Sebab ini pula yang menempatkan ontologi sebagai filsafat ‘pertama’. Pandangan paling dasar ontologi terhadap pendidikan adalah wujud “Lembaga”, karena wujud yang ‘ada dan nyata’ dari pendidikan adalah lembaga.

2. Pendidikan Dalam Pandangan Epistemologi
Menurut konsepnya, Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul, proses, dan hasil bentukan pengetahuan yang secara umum menyangkut aspek formal dan materilnya. Dari konsep tersebut bisa dikatakan bahwa epistemologi memandang pendidikan sebagai suatu “Proses”. Karena bila ditelusuri menurut akar ilmu maupun konsep ontologis yang melekat dalam istilah pendidikan, konsep pendidikan menunjukkan suatu proses belajar-mengajar.
Walaupun dalam pandangan ontologi sendiri pendidikan dimaknai sebagai suatu ‘lembaga’, tetapi yang paling melekat dan khas dari lembaga tersebut menurut penelusuran epistemologi justru menunjukkan konsep suatu ‘proses’. Dan proses ini dalam pandangan epistemologi pasti memiliki nilai-nilai aksiologi yang positif (baik). Di sini salah satu letak perbedaan konsep ontologi dan epistemologi. Epistemologi mempelajari suatu objek sejak awal hingga akhir, dari asal-usul pengetahuan sampai kemana bentukan pengetahuan tersebut bergerak. Sedangkan pendidikan sebagai salah satu objek yang ditelaah epistemologi menurut penelusuran asal-usul sampai pada konsep aksiologinya menunjukkan bahwa pendidikan adalah suatu ‘proses’ dari yang tidak atau kurang baik menuju kearah yang lebih baik.
Epistemologi tidak bisa memutar-balikan suatu konsep seperti halnya ontologi. Bagi epistemologi, pengetahuan itu bersifat pasti dan tetap. Oleh sebab itu dalam pandangan epistemologi pengetahuan itu harus jelas asal-usulnya, prosesnya, hasil bentukan dan arah pergerakan pengetahuan itu sendiri.
Dari sini kemudian telaah epistemologi ikut melebar menjangkau wilayah-wilayah keilmuan lain seiring meluasnya konsep ontologi pendidikan. Wajar bila dalam perkembangannya di dalam telaah epistemologi terjadi reaksi inter dan multi disipliner ilmu. Secara umum reaksi ini muncul disebabkan oleh pergerakan dari konsep ontologi bukan dari dalam telaah epistemologi. Telaah epistemologi dalam banyak hal cenderung stabil, tetap dan lebih bersifat pasti.
Telaah epistemologi pendidikan yang menyangkut objek formal dan materialnya memang mengikuti pergerakan konsep ontologi, tetapi reaksi mengikuti pergerakan konsep ontologi tidak bersifat mutlak. Epistemologi mempunyai standar dan ukuran sendiri yang berbeda dengan ontologi dalam telaah ilmu. Jika telaah ontologi dikatakan bebas dan meluas, maka sebaliknya dengan telaah epistemologi. Telaah epistemologi harus mengikuti kaidah-kaidah dan prosedur sistematisasi ilmiah. Oleh sebab itu menjadi lebih khusus.

3. Pendidikan Dalam Pandangan Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan, hasil, arah atau nilai guna suatu proses. Dari sudut pandang aksiologi , pendidikan dinilai menurut keberadaannya dalam menghasilkan atau menciptakan sesuatu. Oleh sebab itu dalam pandangan aksiologi pendidikan adalah suatu “alat”. Karena pendidikan dapat digunakan untuk menciptakan atau menghasilkan situasi atau kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pendidikan mampu memproses manusia dari kondisi yang tidak atau kurang baik menuju ke kondisi yang lebih baik. Guna pendidikan dalam pandangan aksiologi di sini, yaitu sebagai ‘alat pencipta’ atau ‘pemerbaiki’.
Aksiologi tidak terlalu fokus pada cara-cara, mekanisme atau pergerakan terjadinya proses pendidikan seperti yang ada dalam pendangan epistemologi, atau wujud yang nyata ada dari pendidikan (ontologi), tetapi menekankan pada kemampuan mencipta dan menghasilkan pendidikan itu sendiri.
Bagi aksiologi, pendidikan seperti sebuah mesin. Input dimasukkan, keluar sudah menjadi produk siap pakai. Penilaian pendidikan sebagai suatu ‘alat’ ini merupakan kecenderungan pokok yang menjadi entitas (sesuatu yang melekat dalam diri) aksiologi pada pendidikan, sama halnya seperti pandangan pendidikan sebagai suatu ‘lembaga’ menurut ontologi dan pendidikan sebagai suatu ‘proses’ dalam pandangan epistemologi. Dan memang seperti itu cara pandang ketiganya, sekaligus keunikan yang dimiliki dari objek yang disebut pendidikan.
Cara pandang aksiologi menurut versinya sendiri terkadang mengabaikan nilai-nilai normatif, sama seperti yang lain. Hal ini disebabkan aksiologi tidak lagi digunakan sebagai tujuan atau arah yang ingin dicapai dalam pendidikan, tetapi sebagai sudut pandang. Karena fungsinya sebagai sudut pandang; aksiologi jadi menempatkan posisinya diluar sistem akibatnya menjadi tidak objektif lagi seperti ketika ia menempati posisinya dalam struktur ilmu.
Dalam pandangan aksiologi, pendidikan hanyalah suatu alat yang dapat digunakan untuk menciptakan atau menghasilkan situasi atau kondisi sesuai dengan yang diharapkan. Konsep ini adalah yang paling idealis dalam pandangan aksiologi. Tetapi jika disederhanakan lagi dikembalikan pada akar ilmunya menjadi berbeda. Konsepnya menjadi; pendidikan adalah alat untuk melakukan perubahan. Sama seperti ontologi, sederhana dan meluas.

Posted on Selasa, Juli 19, 2011 by Eman Mendrofa

1 comment

05 Juli 2011

Facebook dan Twitter merupakan situs jejaring sosial yang paling banyak digemari saat ini. Tidak jarang setiap orang pasti mempunyai kedua situs jejaring sosial tersebut. Namun terkadang sebagian orang memiliki keterbatasan waktu untuk mengupdate postingan atau status yang serupa pada kedua layanan situs jejaring sosial ini. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini yaitu dengan menambahkan aplikasi Twitter ke dalam Facebook. Berikut langkah-langkahnya:
1. Sign in  ke dalam akun Twitter Anda.
2. Arahkan browser Anda ke alamat http://twitter/badges untuk menampilkan halaman widget. Klik logo Facebook.


3. Kemudian pilih Facebook Application.


4. Pilih Install Twitter in Facebook.


5. Masukkan Email dan Kata sandi akun Facebook Anda, kemudian klik Masuk.


6. Klik Izinkan untuk mengizinkan Twitter mengakses beberapa informasi dari akun Facebook Anda.


7. Setelah itu Facebook akan meminta Anda untuk terhubung ke akun Twitter Anda. Klik Sign in with twitter.

 
8. Facebook meminta Anda untuk menyetujui apakah anda suka bila akun Twitter dan Facebook Anda terhubung. Klik Allow jika Anda menyetujuinya.


9. Beberapa saat kemudian, Facebook akan memberitahukan kepada Anda kalau akun Facebook dan Twitter Anda telah terhubung. Jika Anda ingin aplikasi twitter ini meng-update status akun Facebook Anda melalui update postingan di akun Twitter Anda maka beri centang pada Facebook Profile. 


10. Kini aplikasi Twitter telah ada pada akun Facebook Anda. Sekarang Anda bisa mengakses Twitter melalui akun Facebook.



Download file ini disini.

Posted on Selasa, Juli 05, 2011 by Eman Mendrofa

No comments

03 Juli 2011

A. PENDAHULUAN 
Dalam upaya mewujudkan masyarakat belajar (Learning Community) harus diciptakan kondisi sedemikian rupa yang memungkinkan peserta didik memiliki pengalaman belajar melalui berbagai sumber, baik sumber yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (by utilization) untuk keperluan pembelajaran. Disisi lain tuntutan pendidikan seperti kebutuhan akan kurikulum yang berbasis kompetensi, belajar terbuka, belajar jarak jauh dan belajar secara luwes, mendorong dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara luas. 

Sejalan dengan perkembangan IPTEK, sumber belajar semakin lama semakin bertambah banyak jenisnya, sehingga memungkinkan orang-orang dapat belajar mandiri secara lebih baik. Pergeseran dari era industri ke era informasi menuntut perubahan dalam berbagai bidang termasuk pendidikan. Di era informasi, peserta didik setiap saat dihadapkan pada berbagai informasi dalam jumlah jauh lebih banyak dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Informasi tersebut disebarkan melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik. Jika peserta didik tidak dipersiapkan untuk dapat memberi makna terhadap informasi, menciptakannya menjadi pengetahuan, menggunakan serta mengevaluasi pengetahuan yang diciptakan orang lain, mereka akan selalu tertinggal.

B. PENTINGNYA BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Pada umunya belajar adalah upaya menguasai sesuatu yang baru yang ditandai dengan perubahan tingkah laku, sebagai hasil pengalaman dari upaya tersebut. Dalam melaksanakan kegiatan belajar tersebut, tentu saja memerlukan berbagai macam media atau bahan pendukung yang disebut dengan sumber belajar.

Defenisi sumber belajar menurut para ahli :
  1. Saripuddin Winataputra : sumber-sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran atau asal untuk belajar seseorang.
  2. Sudjana (1989) : menuliskan bahwa pengertian sumber belajar bisa diartikan secara sempit dan secara luas. Pengertian secara sempit diarahkan pada bahan-bahan cetak. Sedangkan secara luas tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  3. Percival & Ellington : mengatakan bahwa sumber belajar yang dipakai dalam pendidikan atau latihan adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar memungkinkan siswa belajar secara individual. Sumber belajar inilah yang disebut media pendidikan atau media instruksional.
Dari ketiga defenisi diatas kita bisa mengambil suatu kesimpulan : Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan oleh seseorang untuk meningkatkan pengetahuannya dalam menemukan hal-hal baru.

Sumber belajar dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu :
  1. Sumber belajar yang direncanakan (by design) yaitu : Semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
  2. Sumber belajar karena dimanfaatkan (by utilization) yaitu : Semua sumber yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan dan digunakan untuk keperluan belajar. Sumber belajar yang tidak direncanakan pada dasarnya tidak direncanakan dalam kegiatan pendidikan namun karena keadaan memungkinkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan maka keadaan atau situasi tersebut dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Contoh : Rumah sakit pada awalnya hanya digunakan untuk kepentingan kesehatan suatu masyarakat, tetapi rumah sakit tersebut dapat digunakan sebagai sumber belajar apabila seseorang sedang membicarakan pokok bahasan tentang kesehatan.
Rostiyah, N. K (1989;53) mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu adalah :
  1. Manusia (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat)
  2. Perpustakaan
  3. Media massa (majalah, surat kabar, radio, TV, internet, dll)
  4. Alat pengajaran (buku pengajaran, peta, gambar, kaset, tape,dll)
  5. Museum ( tempat penyimpanan benda-benda kuno)
  6. Lingkungan (lingkungan sosial, alam, budaya)
Menurut Sudjana sumber belajar adalah sebagai berikut :
  1. Sumber belajar tercetak (buku, majalah, brosur, koran, poster, denah, kamus, dll)
  2. Sumber belajar noncetak (elektronik) : film, slide, video, komputer, internet, dll
  3. Sumber belajar yang berbentuk fasilitas : perpustakaan, ruangan belajar, lapangan olahraga, dll
  4. Sumber belajar berupa kegiatan : wawancara, kerja kelompok, observasi, simutasi, permainan, dll
  5. Sumber belajar berupa lingkungan dimasyarakat : taman, terminal, pasar, toko, pabrik, museum
Dalam mewujudkan masyarakat belajar sepanjang hayat (long life education) dan untuk menghadapi era informasi dan pasar bebas, para pendidik (guru, dosen, instruktur) harus berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik atau warga belajar memiliki pengalaman belajar dari berbagai sumber, baik sumber belajar yang dirancang maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Disamping itu, kurikulum berbasis kompetensi (KBK), KTSP yang diterapkan dalam pembelajaran secara terbuka dan jarak jauh yang sedang dikembangkan untuk pemerataan pendidikan semuanya tidak akan membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan tanpa ketersediaan dan pemanfaatan sumber belajar yang beraneka ragam.

Jadi, pentingnya belajar berbagai aneka sumber adalah :
  1. Meyakinkan diri pada sebuah fakta (situasi)
  2. Untuk mengetahui perkembangan informasi (pengetahuan)
  3. Menambah pengetahuan dan menemukan hal-hal baru
  4. Untuk mengoreksi diri (pribadi)
  5. Membuat proses pembelajaran tidak vakum (tidak membosankan)
  6. Membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit
Disisi lain, dengan diberlakukannya belajar berbagai aneka sumber, peserta didik dapat memperoleh berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih-lebih dalam memecahkan masalah dalam kegiatan belajar-mengajar.

C. MANFAAT BELAJAR BERBASIS ANEKA SUMBER
Belajar berbasis aneka sumber memberikan berbagai keuntungan antara lain :
  1. Selama pengumpulan informasi terjadi kegiatan berfikir yang kemudian menimbulkan pemahaman yang mendalam dalam belajar (McFarlane, 1992)
  2. Mendorong terjadinya pemusatan perhatian terhadap topik sehingga membuat peserta didik menggali lebih banyak informasi dan menghasilkan hasil belajar yang lebih bermutu (Kulthan, 1993)
  3. Meningkatkan keterampilan berpikir seperti keterampilan memecahkan masalah, memberikan pertimbangan-pertimbangan dan melakukan evaluasi melalui penggunaan informasi dan penelitian secara mandiri ( Resnick, 1987; Todd & Inc Nicholas, 1995)
  4. Meningkatkan perolehan keterampilan pemrosesan informasi secara efektif, dengan mengetahui sifat dasar informasi dan keberagamannya (Cleaver, 1986)
  5. Memungkinkan pengumpulan informasi sebagai proses yang berkesinambungan sehingga mengakibatkan terbentuknya pengetahuan pada tiap fase berikutnya (Moore, 1995)
  6. Meningkatkan sikap murid dann guru terhadap materi pembelajaran dan prestasi akademik (Cuel, 1991)
  7. Membuat orang antusias belajar dan terinspirasi untuk berpatisipasi aktif (Wilbert, 1976)
  8. Meningkatkan prestasi akademik dalam penguasaan materi, sikap dan berpikir kritis, (Barrilant, 1965)
Berkenan dengan keuntungan belajar berbasis aneka sumber yang melekat dalam “belajar bagaimana belajar” (learning to learn) Dorrel mengutip pernyataan Alan Mumford (1988) :
  1. Dapat meningkatkan kemampuan belajar
  2. Dapat meningkatkan motivasi belajar
  3. Dapat menumbuhkan kesempatan belajar yang baru
  4. Dapat mengurangi ketergantungan pada atasan atau guru
  5. Dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan baru
D. PENCIPTAAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG KONDUSIF
Lingkungan belajar yang kondusif adalah lingkungan dimana peserta didik merasa nyaman, senang, dan betah untuk belajar. Lingkungan belajar terbagi dua yaitu :
1) Lingkungan Fisik
Suprayekti (2003:18) menegaskan bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan yang ada di sekitar siswa baik itu di kelas, sekolah, atau di luar sekolah yang perlu di optimalkan pengelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Artinya lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber atau tempat belajar yang direncanakan atau dimanfaatkan. Yang termasuk lingkungan fisik tersebut diantaranya adalah kelas, laboratorium, tata ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan sebagainya.
2) Lingkungan Sosial
Muhammad Saroni (2006:83) , menjelaskan bahwa : Dalam lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antara personil yang ada di lingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial yang baik memungkinkan para siswa untuk berinteraksi secara baik, siswa dengan siswa, guru dengan siswa, guru dengan guru, atau guru dengan karyawan, dan siswa dengan karyawan, serta secara umum interaksi antar personil. Dan kondisi pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi sosial ini berlangsung secara baik. Lingkungan sosial yang kondusif dalam hal ini, misalnya adanya keakraban yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Menurut Kadarsih dalam Cope (No. 02, tahun VI, Desember, 2002:17-18), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif, yaitu :
  1. Memperkenalkan persamaan dan saling menghargai
  2. Membuka kesempatan bagi anak untuk kontribusi ide-ide orisinil
  3. Menganggap perbedaan pendapat sebagai sumber belajar
  4. Mencari cara pendekatan dengan cara pemecahan masalah
  5. Mendorong anak untuk memanfaatkan fantasi dan imajinasi
  6. Mengembangkan kecakapan bertanya, dan mencari jawaban sesuatu
  7. Menciptakan masyarakat belajar yang mengembangkan rasa percaya dan mengurangi resiko
Sejalan dengan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menata lingkungan belajar maka untuk membangun suasana pembelajaran yang menarik sehingga pembelajaran menjadi kondusif adalah perlu memperhatikan perlu adanya :
  1. Kekuatan yang terpendam dan niat yang kuat, hal ini seperti diungkapkan oleh Albert Bandura (1988) dalam Crain William (2007:314), yaitu bahwa “keyakinan seseorang mengenai kemampuan dirinya sangat berpengaruh pada kemampuan itu sendiri”
  2. Jalinan rasa simpati dan saling pengertian, untuk menarik keterlibatan siswa, guru harus membangun hubungan, sebagai jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, mengetahui minat kuat siswa, berbagi kesuksesan puncak siswa, dan berbicara dengan bahasa hati siswa
  3. Keriangan dan ketakjuban, jika guru secara sadar menciptakan kesempatan untuk membawa kegembiraan ke dalam pekerjaan guru, kegiatan pembelajaran akan lebih menyenangkan. Kegembiraan membuat siswa siap belajar dengan lebih mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif. Di samping itu untuk lebih banyak kegembiraan dalam pengajaran maka guru perlu mempertimbangkan dalam hal afirmasi (penguatan dan penugasan), pengakuan dan perayaan terhadap setiap keberhasilan siswa sekecil apapun
  4. Pengambilan resiko (belajar itu mengandung resiko). Setiap kali kita untuk bertualang untuk belajar sesuatu yang baru, kita mengambil resiko besar diluar zona nyaman kita. Zona nyaman merupakan daerah kehidupan yang membuat rasa nyaman atau daerah yang melekat pada rutinitas yang monoton. Maka guru perlu mengupayakan dengan resiko apaun dan pertimbangan yang maka harus dapat keluar dari zona tersebut dari kebiasaan hal-hal baru. Hal ini dapat berdampak pada siswa. Berikut beberapa upaya untuk memberdayakan siswa untuk keluar dari zona nyaman,   yaitu: (a) Beri teladan dengan keluar dari zona nyaman guru, (b) Ceritakan zona nyaman kepada siswa, (c) Beri tahu mereka bahwa guru mendukung mereka 100%, dan (e) Ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung
  5. Rasa saling memiliki. Membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab. Hal ini maka perlu menciptakan tradisi menumbuhkan rasa saling memiliki. Tradisi yang paling bagus adalah tradisi yang diciptakan bersama oleh guru dan siswa. Sebab tradisi akan membuahkan kebanggaan kebersamaan, dan kegembiraan dalam belajar
  6. Keteladanan. Keteladanan membangun hubungan, memperbaiki kredibilitas, dan meningkatkan pengaruh. Akan lebih baik melakukan tindakan atau memberi contoh (modeling) dari pada berbicara saja.
Selanjutnya Indra Djati Sidi (2005:44 & 148), guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas yaitu dengan melakukan pengaturan tempat duduk, mengatur alat peraga, pajangan karya anak, sudut baca, perabot sekolah/kelas  dan sumber belajar dan fasilitas lainnya. Dalam menata lingkungan belajar terutama dalam pengelolaan kelas dan pajangan, di ruang kelas dilakukan pengelolaan meja dan kursi , serta pajangan buku, bahan belajar dari hasil karya anak. Meja dan kursi sering diatur dalam bentuk kelompok atau dalam bentuk U. karena pengelolaan tersebut memudahkan interaksi di dalam kelas, khususnya diantara siswa.  Di sebagian kelas nampak pajangan hasil karya anak dan bahan ajar yang diatur rapi dan menarik, serta mudah dibaca. Yang dipajangkan dapat berupa hasil karya perorangan, berpasangan atau kelompok dan pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan dan sebagainya. Dimana ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan di tata dengan baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

Sedangkan menurut DePorter Bobbi, Reardon Mark dan Singer Sarah Nuurie (2001:63), bahwa lingkungan yang memacu belajar dan daya ingat siswa dapat diperoleh dengan menata :
  • Lingkungan sekeliling dalam kelas
  • Alat bantu
  • Pengaturan tempat duduk
  • Tumbuhan, aroma, hewan peliharaan, dan unsur organik lainnya
  • Musik dan belajar


E. PERAN DAN KEGIATAN PENDIDIK
Pendidik dalam rangka pengajaran dituntut untuk melakukan kegiatan yang bersifat edukartif dan ilmiah. Oleh karena itu peran pendidik tidak hanya sebagai pengajar tetapi sekaligus sebagai pembimbing yaitu sebagai wali yang membantu anak didik mengatasi kesulitan dalam studinya dan pemecahan bagi permasalahan lainnya. Dilain pihak pendidik juga berperan sebagai pemimpin (khusus diruang kuliah/kelas), sebagai komunikator dengan masyarakat, sebagai pengembangan ilmu dan penjabaran luasan ilmu, bahkan juga berperan sebagai pelaksana administrasi. Peranan pendidik dapat ditinjau dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas pendidik mengemban peranan-peranan sebagai ukuran kognitif, sebagai agen moral, sebagai inovator dan kooperatif.

Pendidik sebagai ukuran kognitif. Tugas pendidik umumnya adalah mewariskan pengetahuan berbagai keterampilan kepada generasi muda. Hal-hal yang diwariskan itu sudah tentu harus sesuai ukuran yang telah ditentukan masyarakat dan merupakan gambaran tentang keadaan sosial, ekonomi, dan politik. Karena itu pendidik harus mampu memenuhi ukuran kemampuan tersebut.

Pendidik sebagai agen moral dan politik. Pendidik bertindak sebagai agen moral masyarakat, karena fungsinya mendidik warga masyarakat agar melek huruf, pandai berhitung dan berbagai keterampilan kognitif lainnya. Keterampilan-keterampilan itu dipandang sebagai bagian dari proses moral, karena masyarakat yang telah pandai membaca dan pengetahuan, akan berusaha menghindari dari tindakan-tindakan kriminal dan menyimpang dari aturan masyarakat.

Pendidik sebagai inovator. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka masyarakat senantiasa berubah dan berkembang dalam semua aspek. Perubahan dan perkembangan itu menuntut terjadinya inovasi pendidikan. Tanggung jawab melaksanakan inovasi itu diantaranya terletak pada penyelenggaraan pendidikan.

Pendidik sebagai kooperatif dalam melaksanakan tugasnya pendidik tidak mungkin bekerjasama sendiri dan mengandalkan kemampuan diri sendiri. Karena itu para pendidik perlu bekerja sama antara sesama pendidik dan dengan pekerja-pekerja sosial, lembaga-lembaga kemasyarakatan, dan dengan persetujuan orang tua murid. Dalam proses pengajaran di kelas peranan pendidik lebih spesifik sifatnya. Peranan itu meliputi lima hal yaitu :
  • Pendidik sebagai model
  • Pendidik sebagai perencana
  • Pendidik sebagai peramal
  • Pendidik sebagai pemimpin
  • Pendidik sebagai penunjuk jalan atau sebagai pembimbing kearah pusat-pusat belajar


Menambahkan hal itu Djamarah, menuliskan peran pendidik adalah :
  • Korektor, yaitu pendidik bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, koreksi yang dilakukan bersifat menyeluruh dan afektif sampai ke psikomotor
  • Inspirator; pendidik menjadi inspirator/ilham bagi kemajuan belajar mahasiswa, petunjuk bagaimana belajar yang baik dan mengatasi permasalahan lainnya
  • Informator; pendidik harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Organisator; mampu mengelola kegiatan akademik (belajar)
  • Motivator; mampu mendorong peserta didik agar bergairah dan aktif belajar
  • Inisiator; pendidik menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran
  • Fasilitator; pendidik dapat memberikan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar
  • Pembimbing; membimbing anak didik manusia dewasa susila yang cakap
  • Demonstrator; jika diperlukan pendidik bisa mendemonstrasikan bahan pelajaran yang susah dipahami
  • Pengelola kelas; mengelola kelas untuk menunjang interaksi edukatif
  • Mediator; pendidik menjadi media yang berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaktif edukatif
  • Supervisor; pendidik hendaknya dapat memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran, dan
  • Evaluator; pendidik dituntut menjadi evulator yang baik dan jujur

F. KESIMPULAN
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan semakin hangatnya arus globalisasi, maka sumber-sumber informasi atau sumber belajar semakin banyak, baik sumber belajar yang direncanakan (by design) maupun sumber belajar yang dimanfaatkan (by utilization) dibanding dengan masa-masa sebelumnya. Untuk mengikuti perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang semakin pesat sekarang ini maka pendidikan atau sekolah yang merupakan pilar utama harus dapat dimanajemen seoptimal mungkin. Guru juga yang merupakan tonggak terdepan dalam proses pembelajaran harus mampu menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga siswa dapat senang, nyaman, dan betah dalam belajar. Disisi lain juga, siswa atau peserta didik yang merupakan objek pendidikan dituntut untuk dapat memanfaatkan berbagai aneka sumber belajar sehingga pada akhirnya siswa dapat menguasai dan menerapkan ilmu yang dia miliki didalam kehidupan sehari-hari.

Posted on Minggu, Juli 03, 2011 by Eman Mendrofa

No comments